Virgo

Virgo itu terkutuk setia.

Itulah status whatsapp-ku beberapa waktu lalu. Isinya sebenarnya tentang ketidaktegaanku berpisah dengan 2 ayam jagoku. Ayam jago yang kujual sendiri. 😆

Sek ta lah.. Iku setia opo posesif se? Hehehe

unnamed (1)

Dari dulu aku percaya kalo orang-orang berzodiak virgo itu bersifat setia. Dari mana sih datangnya kepercayaan ini? Padahal aku bukan pembaca setia rubrik zodiak majalah Aneka (boro-boro baca rubriknya, beli majalahnya aja kagak pernah!)

Aku pun menduga, keyakinan ini dipupuk oleh lagu lawas yang dulu sering diputar ibuku. Sebuah lagu dari penyanyi Ade Manuhutu berjudul Virgo:

Virgo…
Lambang sifat yang tenang
Virgo…
Tak pernah rasa bimbang
Virgo, virgo, oh… virgo
Virgo, virgo, oh… virgo

Virgo…
Tak pernah tinggi hati
Virgo…
Cintanya tulus suci
Virgo, virgo, oh… virgo
Virgo, virgo, oh… virgo

Berbahagialah engkau
Berbahagialah engkau
Yang mendapatkan kekasih
Bintang ini

Manja dan sayang pastilah
Manja dan sayang pastilah
Akan aku rasakan
S’lama hidupku

Kalau wanita
Pastilah rendah dan lembut
Hatinya
Dan mesra wajahnya
Kalaulah pria
Pasti mudah senyum
Bersahabat
Pada siapa saja

Virgo…
Tak pernah rasa dendam
Virgo…
Mudah ‘tuk memaafkan
Virgo, virgo, oh… virgo
Virgo, virgo, oh… virgo

Virgo… virgo…
Bintang segala bintang
Virgo… virgo…
Bintang segala bintang…

Baca lebih lanjut

Kucing Yang Serakah

Ditinggal tidur siang, mbak nindy ketik-ketik sendiri di komputer. Ternyata jadilah sebuah cerita pendek. Berikut ceritanya, dengan sedikit editan ejaan dari ummi ^_^

IMG-20190818-WA0018

 

Baca lebih lanjut

Harum harum

Ada yang menarik ketika aku membuka random buku Panduan Tarbiyah Wanita Shalihah karya Isham bin Muhammad Asy-Syarif. Buku yang tiba-tiba dikirim mbak Ndunk, mbak kos jaman kuliah dulu, jauh-jauh dari Bandung sana. Pada bab 9, ada percakapan antara Jabir bin Abdullah Al-Anshari dengan Syaidina Ali.

“Wahai Jabir, sesungguhnya kelezatan dunia ada enam perkara: yang dimakan, yang diminum, yang dijadikan pakaian, yang disetubuhi, yang dicium baunya, dan yang didengar.

Adapun yang dimakan, maka santapan paling lunak adalah madu, padahal itu adalah kotoran sebangsa lalat.

Adapun yang diminum, maka minuman paling lezat adalah air dan tak jarang dengan air itu engkau sama dengan semua hewan.

Adapun yang dipakai, maka pakaian yang paling membanggakan adalah sutera, padahal ia dikeluarkan dari ulat.

Adapun yang disetubuhi, maka itu adalah tempat kencing dalam tempat kencing.

Adapun yang dicium baunya, maka yang terbaik adalah misik, padahal itu adalah darah hewan.

Adapun yang didengar, yang terbaik adalah dawai gitar padahal itu semua bernilai dosa.”

Menarik sekali bukan? Betapa yang paling disukai manusia di dunia ini sesungguhnya adalah barang-barang hina(?) Kisah ini sedikit menjawab pertanyaanku kenapa mbah kung membolehkan nazar (semisal nazar berbakat di bidang musik) untuk belajar alat musik apapun, yang penting bukan gitar :p Namun ada satu lagi yang membuat aku penasaran. Benarkah minyak misik yang terkenal itu dibuat dari dari darah hewan?

Misik dan kesturi, dua bau-bauan yang sering disebut dalam kisah-kisah kenabian. Rosululloh sendiri terkenal menyukai wangi-wangian. Aku pun mencoba googling dan menemukan satu tulisan yang (menurutku) paling lengkap menjelaskan asal-usul wangi-wangian ini. Berikut adalah copas dari web tersebut, dengan beberapa catatan tambahan.

Baca lebih lanjut

Susu UHT Basi?

Beberapa hari lalu, beredar video di grup whatsapp wali murid TK. Seorang ibu dan anaknya (?), tidak terlihat wajah, tampak membuka beberapa kotak susu UHT cokelat merk tertentu. Merk yang paling terkenal itu. Awalnya aku tidak mengerti, apa yang merek ributkan. Dalam video yang tidak terlalu jelas, tampak susu itu dituang ke piring. Lalu ada gumpalan-gumpalan coklat. Aku pikir ya memang cokelat di susu kadang mengendap. Makanya ada perintah “kocok dulu sebelum diminum”. Ternyata bukan itu yang bikin mereka panik. Dengan jijik si ibu bilang susunya sudah basi. Padahal expirednya masih lama. Padahal kotaknya belum dibuka.

UHT

Aku tidak suka video semacam itu. Terkesan memojokkan merk terkenal tadi. Biasa, bikin fitnah. Cepat-cepat video tadi kuhapus. Aku bilang ke anak-anak, itu namanya hoaks.

Baca lebih lanjut

“Bahagia”

IMG_20190729_093757

Tanaman iler. Terimakasih google lens. Tanpamu aku tidak tahu apa nama tanaman ini 🙂

Agustus 2018, aku pindah ke rumah sawah ini, tepat di puncak musim kemarau. Tanah bekas sawah, diuruk dengan tanah galian, membuatnya kering kerontang sempurna. Retakan hampir 1cm menjalar dimana-mana. Gersang.

Tentu saja aku tidak tahan. Tapi untuk menghijaukannya, aku harus menunggu musim penghujan. Sayang bila air sumur digunakan untuk siram-siram. Sungkan. Wong tetangga saja pada susah air, tak elok rasanya menghambur-hamburkan.

Begitu musim hujan datang, aku pun bersemangat memulai proyek berkebunku. Tapi tentu saja sesuai prinsip penghematan, maka cara termurah untuk mendapatkan bibit adalah: minta tetangga 😀 Eh, daripada tetangga, minta ke uti tentu lebih utama. Lalu minta saudara. Baru minta tetangga.

Baca lebih lanjut

Belik Etan

Beberapa hari lalu ibuk cerita. Katanya “belik” di dekat rumah (rumah ibuk, bukan rumahku) akan “dibangun”. Entahlah “pembangunan” macam apa yang akan dilakukan. Apakah semacam Belik Ndadapan atau Belik Lor: dibuatkan jalan permanen, diperbaiki pemandiannya? Atau sekedar dibersihkan jalannya agar manusia bisa pergi ke sana? Semua tergantung dana (dan niat). Aku sendiri benar-benar berharap belik itu akan kembali bisa digunakan. Setelah bertahun-tahun, sudah terlalu lama dia dibiarkan “sekarat”.

Belik, demikian kami menyebutnya. Ia adalah mata air yang airnya dialirkan melalui pancuran kecil. Letak Belik Etan sekitar 300m dari rumah ibuk, ke arah Timur. Karena rumah Ibuk bersebelahan dengan rumah Mbah, jadi sekitar itulah jarak rumah Mbah ke Belik Etan. Sejak kecil, setiap liburan panjang, aku menghabiskan waktuku di rumah Mbah. Waktu itu rumah Ibuk masih di Saptorenggo, 30km dari sini. Jaman dulu ketika mesin pompa belum ada, Belik adalah andalan semua warga untuk menyuci baju. Siapa juga yang mau menimba air berember-ember buat nyuci? Padahal kegiatan mencuci baju ke Belik itu semacam “penak tapi soro”, enak tapi juga sengsara. Ketika berangkat, semuanya begitu mudah. Dengan membawa cucian seember, kita tinggal menyusuri jalan kampung, lalu berbelok sedikit di kebun kopi milik tetangga. Kemudian kita akan menemukan anak tangga menurun dari tanah. Tanahnya sedikit berlempung. Luar biasa licinnya kalau hujan. Juga turunannya tajam. Sekitar 45°. Setelah 7-8m, barulah kita sampai di tempat pancuran. Coba bayangkan bila jalanan tadi kamu lalui dari arah berlawanan. Naik tajam, licin, sambil membawa seember cucian yang beratnya sudah jauh bertambah karena basah. Badan yang tadinya segar sehabis mandi, begitu sampai di atas langsung penuh keringat lagi 😀

Baca lebih lanjut

Menjadi Orang Tua

Ibunya perawat?

Bukan, dok.

Saya sadar, pasien macam saya adalah jenis pasien yang dibenci perawat. Cerewet! Sore tadi aku sedikit berdebat dengan perawat. Aku ga mau nazar diinfus walaupun dia nginep di rumah sakit. Padahal harusnya ya diinfus :p Untunglah pendapatku didukung dokter. Alhamdulillah! 😀 Punya 4 anak, dengan berbagai pengalaman penyakit: beberapa kali ke UGD, 4x nginep, 2x operasi, 1x CT scan, membuatku cukup hapal alur rumah sakit, jenis obat-obatan, dan beberapa istilah medis. Pengetahuan yang kudapat dari keterpaksaan. 😦

“Tidak ada yang tahu berapa banyak pengorbanan yang sudah aku lakukan.”

Berbicara mengenai “orang tua” (tema pertama dari arisan blog yang aku ikuti), aku langsung teringat pada kata-kata ibu Daikichi di film Usagi Drop itu. Padahal aku menontonnya sekitar tahun 2012, ketika aku baru punya anak satu dan kehidupan sebagai orang tua terasa “baik-baik saja”. Dua tahun kemudian, ketika aku memutuskan resign, salah satunya karena anak (diantara bejibun alasan lain), kata-kata ibu Daikichi itu semakin melekat di otak.

Baca lebih lanjut